Perilaku Toxic di Tempat Kerja: 7 Cara Exclusive Menanganinya agar Tidak Menghancurkan Produktivitas

Perilaku Toxic di Tempat Kerja Meningkat Tajam pada 2025

Perilaku toxic di tempat kerja menjadi salah satu isu terbesar dalam dunia kerja sepanjang 2025. Data terbaru yang dirilis Society for Human Resource Management (SHRM) menunjukkan bahwa tingkat ketidaksopanan dan agresivitas pasif di kantor meningkat lebih dari 20% dalam setahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga mendorong lonjakan turnover dan meningkatnya kecemasan karyawan.

perilaku toxic di tempat kerja

Pada pertemuan CNBC Workforce Executive Council Summit 2025 di New York, psikolog klinis sekaligus pakar narsisme, Dr. Ramani Durvasula, menjelaskan bahwa perilaku toxic yang tidak ditangani dengan cepat dapat merusak seluruh ekosistem perusahaan, bahkan jika pelakunya hanyalah satu atau dua orang saja.

Penyebab Meningkatnya Perilaku Toxic di Tempat Kerja pada 2025

Menurut analisis Durvasula dan SHRM, ada beberapa faktor kunci yang mendorong meningkatnya perilaku toxic di tempat kerja tahun ini:

Ketegangan Politik dan Sosial

Perbedaan pandangan mengenai isu sosial, politik, dan budaya antar generasi memicu gesekan antar karyawan.
Banyak yang membawa ketegangan dari luar kantor ke lingkungan kerja.

Mandat Kembali ke Kantor (RTO)

Penelitian SHRM menunjukkan perusahaan yang menerapkan wajib kembali ke kantor mengalami 63% lebih banyak insiden perilaku toxic dibanding perusahaan yang memberi fleksibilitas kerja.

Tekanan Ekonomi dan PHK

Inflasi dan meningkatnya biaya hidup membuat karyawan lebih mudah tersulut emosi.
Kondisi perusahaan yang sedang melakukan efisiensi atau PHK massal juga menciptakan rasa tidak aman.

Dampak Perilaku Toxic di Tempat Kerja Terhadap Bisnis

Perilaku toxic bukan sekadar masalah antar pribadi. Dampaknya terbukti sangat merugikan perusahaan.

Kerugian Ekonomi Menembus Miliaran Dolar

SHRM memperkirakan perusahaan di AS kehilangan hingga $2.1 miliar per hari akibat menurunnya produktivitas dan meningkatnya ketidakhadiran.

Lonjakan Turnover

Karyawan yang tidak mendapat dukungan dari atasan untuk menghadapi perilaku toxic 48% lebih cenderung resign.

Lingkungan Kerja yang Tidak Aman

Korban perilaku toxic sering merasa:

  • dimanipulasi
  • tidak aman
  • tidak dapat memprediksi reaksi rekan kerja
  • stres dan sulit fokus

Kondisi ini berkontribusi langsung terhadap penurunan moral tim dan meningkatnya kesalahan kerja.

Mengapa Perilaku Toxic Tidak Boleh Dianggap Sebagai “Biasa”

Durvasula menegaskan bahwa banyak istilah seperti gaslighting, narcissist, atau toxic yang kini digunakan terlalu bebas. Namun, ia mengingatkan bahwa meskipun tidak semua perilaku toxic menunjukkan narsisme, hampir semua perilaku narsistik menghasilkan dampak toxic.

Ciri penting pelaku toxic yang konsisten adalah tidak adanya proses perbaikan diri.
Orang lain selalu harus “membersihkan kekacauan” yang mereka buat.

7 Strategi HRD Mengatasi Perilaku Toxic di Tempat Kerja

Berikut strategi berbasis riset dan rekomendasi pakar untuk menghadapi masalah ini.

1. Fokus pada Perilaku, Bukan Label

Daripada mendebat apakah seseorang “narsis” atau “toxic”, HRD harus menilai tindakan konkret:

  • Apa yang dilakukan?
  • Siapa yang terdampak?
  • Sudah terjadi berapa kali?

2. Ciptakan Ruang Aman untuk Melapor

Karyawan harus merasa aman menyampaikan keluhan tanpa takut pembalasan.
HRD perlu aktif bertanya: “Apa yang terjadi dan bagaimana dampaknya pada Anda?”

3. Identifikasi Pola, Bukan Insiden Tunggal

Sebagian besar pegawai hanya melapor setelah perilaku toxic terjadi berkali-kali.
HRD harus memeriksa rekam jejak dan pola.

4. Kelola “Golden Goose” Dengan Bijak

Beberapa pelaku toxic adalah karyawan kunci, seperti top salesperson atau ahli tertentu.
Dalam kasus ini, HRD perlu membatasi interaksi mereka dengan tim agar kerusakan tidak meluas.

5. Manfaatkan “Narcissistic Whisper”

Dalam banyak perusahaan, ada orang yang secara alamiah tidak terpengaruh perilaku toxic.
Mereka dapat dijadikan perantara untuk mengurangi gesekan.

6. Tetapkan Konsekuensi yang Tegas

Pendekatan “positivity” tidak efektif.
HRD harus memberikan sanksi nyata, mulai dari peringatan resmi hingga pembatasan peran.

7. Dokumentasikan Semua Laporan

Setiap insiden harus dicatat detail untuk mencegah masalah hukum dan memudahkan evaluasi.

Harga yang Harus Dibayar Jika Perilaku Toxic di Tempat Kerja Dibiarkan

Durvasula menekankan bahwa konsekuensinya sangat serius:

  • Perusahaan akan kehilangan talenta terbaik.
  • Karyawan yang paling kompeten rela menerima gaji lebih rendah demi keluar dari lingkungan buruk.
  • Yang tersisa adalah pelaku toxic dan para “pengikutnya”.

Tanpa tindakan tegas, perusahaan akan mengalami penurunan kualitas budaya kerja, reputasi, dan performa jangka panjang.

Fenomena perilaku toxic di tempat kerja pada 2025 menjadi alarm bagi semua perusahaan.
Naiknya tingkat ketidaksopanan, tekanan ekonomi, dan kebijakan kembali ke kantor membuat masalah ini semakin kompleks. Namun dengan pendekatan berbasis bukti — mulai dari mendokumentasikan perilaku, memberi ruang aman bagi korban, hingga mengambil tindakan disipliner — perusahaan dapat melindungi produktivitas sekaligus menjaga kesehatan mental karyawan.

Perusahaan yang berani menghadapi perilaku toxic secara langsung akan menjadi tempat kerja yang lebih stabil, aman, dan kompetitif di tahun-tahun mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *