7 Fakta Exclusive tentang “Nottingham Modern Languages Protest” yang Mengguncang Dunia Akademik

Nottingham modern languages protest: Apa yang Terjadi?

Nottingham modern languages protest dimulai pada Senin (24 November 2025), ketika sekitar 100 mahasiswa dan staf — termasuk dosen — berkumpul di kampus University and College Union (UCU) cabang Nottingham untuk memprotes rencana institusi menghentikan penerimaan mahasiswa baru pada jurusan bahasa modern, musik, serta program lain seperti keperawatan.

Pihak universitas sendiri menyatakan bahwa meskipun penerimaan untuk 2026/27 dibekukan untuk jurusan-jurusan tersebut, tidak ada keputusan final mengenai penutupan penuh — setidaknya belum.

Nottingham modern languages protest

Kenapa Jurusan Bahasa Bisa “Dipreteli”?

Alasan Finansial dan Penurunan Minat yang menyebabkan terjadinya Nottingham modern languages protest

Menurut pernyataan resmi universitas, jurusan bahasa modern dianggap “tidak berkelanjutan” karena sebagian besar kursus memiliki kurang dari 10 siswa per angkatan.

Mahasiswa Lily-Rose Marsden, Charlie Blair, dan Max Hegarty termasuk di antara mereka yang menentang penutupan program studi tersebut.”

Penurunan minat ini bukan hanya fenomena di Nottingham. Sejumlah universitas di Inggris melaporkan penurunan drastis pendaftar jurusan bahasa dalam beberapa tahun terakhir — mencerminkan pergeseran sosial yang menyebabkan banyak siswa memilih jurusan lain.

Tekanan Biaya dan Kebijakan Mahasiswa Internasional

Universitas menyebut bahwa ketidakpastian keuangan, termasuk dampak dari usulan pajak terhadap mahasiswa internasional, turut memperburuk situasi. Mereka mengklaim bahwa kenaikan biaya kuliah mungkin akan dibatalkan oleh kebijakan tersebut, sehingga pendapatan tambahan dari mahasiswa asing sulit diandalkan.

Dampak Langsung: Kekhawatiran dari Dosen dan Mahasiswa pada Nottingham Modern Languages Protest

Kepala departemen bahasa modern di Nottingham, Paul Smith, menyatakan bahwa meskipun mahasiswa yang sudah terdaftar bisa menyelesaikan studinya, kualitas program akan menurun jika tidak ada penerimaan baru setelah 2026. Ia memperkirakan sekitar 50 posisi — termasuk posisinya sendiri — bisa terancam.

Seorang mahasiswa tahun kedua jurusan Jerman dan Rusia, Charlie Blair, mengungkapkan kekhawatiran bahwa nilai gelar dari universitas bisa kehilangan daya tarik di mata perusahaan masa depan jika jurusan bahasa dihapus.

Sementara itu, rekan-rekan mahasiswa dan alumni memandang keputusan ini sebagai kemunduran — bukan hanya bagi jurusan bahasa, tetapi juga bagi reputasi internasional universitas yang mengklaim dirinya “global.”

Respons Publik: Dukungan Meluas hingga Petisi Online

Menanggapi rencana penutupan ini, lebih dari 19.000 orang menandatangani petisi untuk menyelamatkan kursus bahasa modern pada Nottingham modern languages protest, dan lebih dari 15.000 tanda tangan mendukung upaya serupa untuk jurusan musik.

Selain itu, sejumlah anggota parlemen di Nottinghamshire menyurati universitas dan mendesak penghentian sementara dari rencana penutupan — menunjukan bahwa kekhawatiran atas keputusan ini telah menyebar hingga ke ranah politik.

Beberapa organisasi profesi pun angkat suara. Misalnya, Institute of Translation and Interpreting (ITI) memperingatkan bahwa hilangnya program bahasa akan merusak posisi Inggris dalam pendidikan, budaya, dan ekonomi global.

Konteks yang Lebih Luas: Tren Penurunan Bahasa di Perguruan Tinggi Inggris

Fenomena Nottingham Modern Languages Protest bukanlah kasus tunggal. Sejak beberapa tahun terakhir, banyak universitas di Inggris memotong atau menyederhanakan program bahasa, musik, dan humaniora — sebagai dampak dari tekanan finansial dan penurunan minat siswa.

Dalam beberapa kasus, pemangkasan ini menandai hilangnya program bahasa sama sekali dari institusi lama, yang mempengaruhi ketersediaan pendidikan bahasa di regional tertentu — sehingga dijuluki “linguistic deserts” (gurun bahasa).

Para pendukung bahasa mengingatkan bahwa ini lebih dari sekadar statistik — bahasa adalah alat penting untuk diplomasi, perdagangan global, keanekaragaman budaya, serta mobilitas sosial.

Apa Kata Universitas? — Penjelasan dari Pihak Nottingham

Menurut juru bicara universitas: mereka tetap berkomitmen menjadi institusi multidisipliner dengan penawaran di berbagai bidang — seni, sains, teknik, kesehatan, dan seterusnya. Namun mereka menegaskan bahwa tidak mungkin mempertahankan program yang “tidak memiliki permintaan mahasiswa.”

Universitas juga menyebut bahwa meskipun kursus degree dihentikan, mereka berencana memperkuat pembelajaran bahasa melalui Language Centre, memungkinkan mahasiswa dari jurusan lain tetap belajar bahasa sebagai bagian dari kurikulum mereka — dalam format yang “lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan masa kini.”

“Nottingham Modern Languages Protest”: Dampak Jangka Panjang & Apa yang Dipertaruhkan

  • Masa depan akademik staf: Jika jurusan bahasa dan musik benar-benar ditutup, puluhan dosen — dan tenaga pengajar — bisa kehilangan pekerjaan.
  • Penurunan daya tarik global universitas: Banyak mahasiswa internasional memilih universitas seperti Nottingham karena kekayaan program bahasa dan humaniora; penghapusan jurusan ini bisa mengurangi minat global.
  • Risiko “gurun bahasa” di kawasan East Midlands: Tanpa program bahasa, generasi calon penerjemah, diplomat, guru bahasa, dan budaya bisa semakin sedikit — mengurangi keragaman akademik dan kultural.
  • Perubahan arah pendidikan: Fokus bisa bergeser ke jurusan yang dianggap “menghasilkan keuntungan”, seperti bisnis, sains atau teknologi — tapi mengorbankan nilai long-term dari humaniora.

Sebuah Peringatan untuk Masa Depan Pendidikan Bahasa

Nottingham modern languages protest bukan sekadar unjuk rasa mahasiswa — melainkan alarm bagi sistem pendidikan tinggi di Inggris. Di tengah tekanan keuangan, tuntutan agar universitas fokus pada kursus “populer dan menguntungkan” menimbulkan dilema besar: antara efisiensi ekonomi dan pelestarian keberagaman akademik.

Jika keputusan akhirnya tetap pada penutupan jurusan bahasa, kita berisiko kehilangan generasi penerjemah, intelektual, diplomat budaya — sekaligus meredam peluang bagi siswa muda untuk memahami dunia secara lebih luas.

Bagi lembaga pendidikan, pengambil kebijakan, mahasiswa, dan masyarakat luas — ini saatnya mempertimbangkan kembali nilai dari pendidikan bahasa, budaya, dan humaniora, jauh di luar hitung-hitung kursi dan biaya semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *