Suneung 2025: Ujian Nasional yang Menentukan Masa Depan Generasi Muda Korea
Suneung 2025 atau College Scholastic Ability Test (CSAT) kembali menjadi sorotan internasional karena tingkat tekanan dan durasinya yang ekstrem. Ujian yang hanya berlangsung satu hari ini seakan menghentikan seluruh aktivitas Korea Selatan. Dengan lebih dari 550.000 peserta, Suneung selalu menjadi hari yang menentukan masa depan akademis dan karier jutaan siswa Korea setiap tahun.

Namun sorotan utama pada Suneung 2025 bukan hanya pada tingkat kesulitannya, melainkan pada ujian maraton 13 jam yang dijalani siswa tunanetra tanpa jeda makan malam. Hal inilah yang membuat Suneung dikenal sebagai ujian masuk perguruan tinggi terpanjang di dunia bagi penyandang disabilitas penglihatan.
1. Suneung 2025 Diikuti Lebih dari 550.000 Peserta – Tertinggi Dalam 7 Tahun

Pada tahun 2025, jumlah peserta Suneung meningkat secara signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Korea menunjukkan:
- Total peserta: 550.400 siswa
- Peningkatan 2,3% dibanding tahun 2024
- Jumlah pusat ujian: lebih dari 1.300 lokasi
- Total pengawas: 30.000+ staf
Peningkatan ini disebabkan oleh kombinasi faktor demografis dan kebijakan pemerintah yang mendorong lebih banyak siswa kembali memilih jalur pendidikan tinggi.
Suneung dikenal sebagai ujian yang tidak hanya menentukan masuk universitas, tetapi juga:
- Prestise sosial
- Peluang pekerjaan
- Kemungkinan pendapatan
- Masa depan karier
- Kelayakan untuk bekerja di sektor publik
- Bahkan dianggap memengaruhi “citra diri” dalam masyarakat
Karena itu, persiapan Suneung biasanya dimulai sejak kelas 10 atau bahkan lebih awal.
2. Pada Hari Suneung 2025, Korea Selatan Hampir Benar-Benar Diam
Suneung 2025 bukan sekadar ujian; ini adalah ritual nasional. Pada hari tersebut, pemerintah, sekolah, perusahaan, dan masyarakat melakukan berbagai langkah untuk menciptakan lingkungan bebas gangguan.
Beberapa kebijakan unik pada hari Suneung:
a. Penerbangan ditunda
Saat sesi listening Bahasa Inggris, biasanya sekitar pukul 13.10–13.35, semua pesawat dilarang lepas landas atau mendarat demi mengurangi kebisingan. Bandara Incheon dan Gimpo bahkan mengosongkan jadwal 30 menit penuh.
b. Kepolisian memberi layanan “escort emergency”
Jika siswa terlambat, polisi akan:
- Menjemput dengan motor patroli
- Menembus kemacetan
- Mengantar langsung ke ruang ujian
Rata-rata lebih dari 800 siswa diselamatkan setiap tahun dengan metode ini.
c. Pertokoan dan kantor buka lebih siang
Banyak kantor menunda jam masuk 1 jam untuk mengurangi kepadatan lalu lintas pada pagi hari.
d. Orang tua berkumpul di luar sekolah untuk berdoa
Seperti tradisi, ribuan orang tua membawa:
- Tasbih
- Kalung doa
- Makanan beruntung
- Minuman jahe
Beberapa bahkan mengunjungi kuil atau gereja sejak subuh.
3. Suneung 2025 Ujian 13 Jam bagi Siswa Tunanetra — Tanpa Jeda Makan
Durasi Suneung untuk siswa reguler adalah 8 jam 10 menit, dimulai pukul 08.40 hingga 17.40. Namun, bagi siswa tunanetra dengan gangguan penglihatan berat, pemerintah Korea memberikan tambahan waktu 1,7 kali lipat.
Dengan tambahan tersebut:
- Total durasi ujian: 12–13 jam
- Jam selesai: hingga pukul 21.48
- Tidak ada istirahat makan malam
- Hanya ada jeda singkat antar sesi (tidak cukup untuk makan)
Durasi ekstrem ini disebabkan oleh penggunaan:
- Tes Braille yang sangat tebal
- Pembaca layar digital
- Proses memahami grafik, tabel, dan rumus hanya melalui sentuhan
Bagi siswa tunanetra, Suneung 2025 bukan sekadar ujian, melainkan ujian fisik dan mental.
4. Mengapa Tes Braille Memakan Waktu Lebih Lama?
Perbedaan mendasar antara versi standar dan Braille sangat besar. Materi yang sama, ketika dikonversi menjadi Braille, menjadi 6–9 kali lebih tebal.
Contoh:
| Mata pelajaran | Halaman standar | Braille |
|---|---|---|
| Bahasa Korea | 16 halaman | ±100 halaman |
| Matematika | 20 halaman | ±140 halaman |
Beberapa alasan mengapa versi Braille memakan waktu lebih lama:
- Pengulangan simbol matematika membutuhkan ruang lebih besar
- Tabel dan diagram harus disederhanakan menjadi teks panjang
- Diperlukan ketelitian dalam menyentuh setiap titik
- Tekstur Braille tidak bisa dibaca cepat seperti teks visual

Selain itu, ujung jari bisa sakit karena ribuan titik Braille disentuh selama berjam-jam.
Para guru menjelaskan bahwa di sesi terakhir, banyak siswa tunanetra mengangkat tangan dengan jari memerah akibat gesekan konstan.
5. Tantangan Berat di Lapangan: Cerita Dong-hyun dan Jeong-won
Dua pelajar tunanetra dari Sekolah Hanbit menjadi sorotan tahun ini.
Dong-hyun (18) — Buta total
- Menggunakan Braille dan screen reader
- Menghafal isi soal karena audio tidak bisa diulang
- Menemukan grafik, diagram, dan peta sebagai tantangan terbesar
Dong-hyun melihat ujian sebagai “maraton mental”.

Jeong-won (18) — Low vision
- Bagian tersulit: sore hari antara Bahasa Inggris dan Sejarah Korea
- Tidak ada makan malam membuat stamina turun drastis
- Fokus antara sentuhan dan audio menguras energi lebih cepat

Jeong-won menyebut Suneung sebagai “ujian ketekunan”.
6. Buku Belajar Braille Terlambat — Hanya Muncul 90 Hari Sebelum Ujian
Salah satu masalah paling serius dalam Suneung 2025 adalah keterlambatan buku Braille.
Faktanya:
- Siswa reguler menerima buku EBS (materi utama Suneung) pada Januari–Maret
- Siswa tunanetra menerima versi Braille baru sekitar Agustus–September
- Waktu belajar efektif mereka hanya kurang dari 90 hari
Hal ini menimbulkan ketidakadilan struktural.
Guru-guru meminta pemerintah mempercepat proses penerbitan Braille karena:
- Proses pembelajaran siswa tunanetra jauh lebih lambat
- Mereka membutuhkan adaptasi tambahan
- Banyak materi visual sulit diterjemahkan ke bentuk audio
Namun hingga artikel ini ditulis, pemerintah belum memberikan penjelasan resmi.
7. Kuliah Daring dan Materi Digital Tidak Ramah Disabilitas
Dengan meningkatnya platform pendidikan digital, siswa tunanetra mengalami hambatan baru:
- Diagram yang ditampilkan di layar tidak dijelaskan dalam audio
- Banyak instruktur menulis di papan digital tanpa narasi
- Grafik interaktif tidak terbaca oleh screen reader
- Materi berbentuk PDF terkunci sehingga tidak dapat dikonversi
Akibatnya, siswa harus:
- Mengetik ulang berkas
- Meminta bantuan sukarelawan
- Menggunakan software khusus yang mahal
Ketidaksetaraan akses ini menjadi isu besar dalam Suneung 2025.
8. Pemerintah Mulai Mengembangkan Sistem AI untuk Tes Aksesibel
Korea Selatan pada 2025 mengumumkan pilot project teknologi baru:
a. OCR pintar untuk mengubah gambar menjadi Braille otomatis
b. Screen reader yang menafsirkan grafik dan tabel
c. Model AI yang menjelaskan diagram dengan bahasa natural
Program ini masih dalam tahap awal, tetapi diperkirakan mulai digunakan pada Suneung 2027–2028.
9. Pentingnya Suneung 2025 bagi Masa Depan Pendidikan Inklusif
Bagi siswa tunanetra, Suneung bukan sekadar tes masuk kampus. Ujian ini menjadi simbol:
- Kesetaraan akses
- Perjuangan menghadapi keterbatasan sistem
- Ketekunan menghadapi tekanan akademis
- Perlawanan terhadap hambatan sosial
Guru mereka, Kang Seok-ju, mengatakan:
“Ujian ini adalah puncak dari apa yang mereka pelajari sejak kecil. Saya hanya ingin mereka pulang dengan rasa bangga.”
10. Harapan Baru: Reformasi Suneung dan Keadilan Pendidikan
Dengan meningkatnya perhatian internasional, beberapa reformasi yang diusulkan:
- Menambah istirahat makan malam untuk ujian tunanetra
- Mempercepat penerbitan buku Braille
- Ada standar wajib untuk materi kuliah daring
- Menyusun tes khusus matematika yang lebih ramah Braille
- Menyediakan asisten AI di ruang ujian
Jika reformasi ini berjalan, Suneung ke depan akan menjadi lebih inklusif.
Suneung 2025 adalah Cermin Tekad dan Ketahanan
Suneung 2025 mengingatkan dunia bahwa akses pendidikan tidak boleh hanya menjadi hak bagi mereka yang bisa melihat, mendengar, atau bergerak dengan sempurna. Di balik ujian 13 jam itu, ada mimpi, kerja keras, dan keberanian luar biasa dari para siswa tunanetra Korea Selatan.
